bila itu ujian, mari kita lulus dgn nilai memuaskan
oh, bukan, bukan. bukannya congkak bukannya sombong, blog ini diberi judul “bencana? siapa takut!”. tak ada maksud menantang bencana. sama sekali tidak. toh bila memang datang waktunya, tak ada satupun dari kita yg mampu menolak bencana. tapi sebelum datang waktunya, setiap kita sebenarnya bisa melakukan sesuatu untuk mengantisipasi hal itu. sudahkah kita melakukannya?
banyak dari kita yang memandang bencana sebagai kehendak yang mahakuasa. sebagai sebuah ujian, yang kapan datang (atau tidak)nya tak bisa di-tawar2, bahkan meskipun kita mengerahkan sekian banyak pakar. repotnya, cara pandang demikian jebul membuat kita jadi pasif. kita baru petakilan berlomba berbuat yg paling hebat “setelah” bencananya terjadi. kita baru diskusi sana-sini “setelah” ujian diturunkan.
memposisikan bencana sebagai sebuah ujian adalah cara pandang yang tidak keliru. yang belum begitu benar adalah cara menyikapinya. bila benar bencana adalah ujian dari sang mahakuasa, mestinya — dgn asumsi sbg hamba yg baik — kita semua bersemangat untuk bisa lulus ujian tersebut dengan nilai memuaskan. dan untuk berhasil lulus memuaskan, salah satu caranya adalah dengan melakukan persiapan2 yang matang, dengan banyak belajar, jauh sebelum hari ‘h’ ujiannya tiba.
sebelum tsunami menghantam negeri ini, teori tentang bencana tak begitu diminati ataupun dipelajari. barulah setelah hingar-bingar berdatangannya sumbangan dolar plus analisa2 para pakar, kita mulai sadar bahwa negeri ini layak mendapat sebutan “the supermarket of disasters”. bukan karena kita bangsa yg wagu, pun bukan karena dosa2 kita, tetapi memang karena bumi nusantara yang kita tinggali ini memiliki karakter alam yang menyimpan banyak potensi ancaman bencana. negara lain juga punya potensi ancaman bencana, barang satu atau dua. kita punya lebih lengkap: tsunami, gempabumi, kekeringan, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, letusan gunung berapi, dst. sebut saja apa, kita punya. “you name it, we have it”. itu kita baru bicara soal bencana alam, belum bencana non-alam lainnya.
lantas, malu kah kita menjadi bangsa yg tinggal di negeri ’supermarket-nya bencana’? tidak harus malu. kita malah justru bisa bangga memiliki ‘laboratorium’ yg komplit untuk meneliti dan melahirkan teori2 yg mendunia mengenai bencana. (sadar atau tidak, itu sudah terjadi dgn terus berdatangannya ahli2 dari berbagai belahan dunia menganalisa ini itu ttg bencana di indonesia). yang berkemungkinan membuat kita malu adalah, bila kitanya sendiri sebagai pemilik laboratorium-bencana kok ya cuma kebagian deritanya belaka, atau paling banter ngalap berkah sumbangan2.
sementara itu, teori dan wacana2 pengetahuan yang terkait bencana begitu pesat berkembang di komunitas internasional. kita sebagai pemilik laboratorium-bencana, yg negerinya mulai dikenal sbg ’supermarket of disasters’, wajib melek-pengetahuan tentang semua ini. tidak harus menjadi pintar banget, memang. tetapi juga jangan sampai keterlaluan kupernya lantaran tak kenal babar-blas istilah2 paling standar dalam perbincangan manajemen bencana, semacam: vulnerability, risk reduction, hyogo framework, mitigation, un-isdr, early warning systems, etc..etc…
demikianlah, dgn segala kewaguannya, blog ini diangankan untuk mengarah ke sana. mengajak kita semua belajar bersama, ngobrol bareng, diskusi dengan riang, tentang hal2 yg terkait bencana. bukan saja di saat sedang hangat2nya terjadi bencana, namun juga di hari2 normal dimana kita tak pernah tahu apakah akan terjadi bencana (lagi) atau tidak. sebab ujian bisa terjadi kapan saja. dan ujian yg paling bermutu, konon justru adalah ujian yg tak pernah diumumkan lebih dulu.
lebih daripada itu, menarik andaikata kita bisa bikin negeri kita ini jadi pusat rujukan seluruh dunia untuk hal2 yg terkait bencana. boleh lah kita kalah di bidang2 lain yg kita tak punya, tapi masa sih dalam pengetahuan bencana pun kita kalah! katanya pengalaman adalah guru yg terbaik…