bencana? siapa takut!

pada indonesia, dunia belajar tentang bencana

itu semua bukan bencana: 5,6,7 adalah “hazards”

bukan bencana 

si zamronie nyengir. benar dugaannya. definisi bencana yg ruwet dan njlimet itu kadang malah bikin bingung.

dari tujuh gambar yang ditayangkan pada posting sebelum ini, tak ada satupun yang disebut bencana. yang paling sering dianggap sebagai bencana adalah gambar nomor 5, 6, dan 7. masuk akal, karena sepintas sepertinya medeni, mengerikan: gunung meletus, ombak menerjang, bumi merekah!

tetapi sesungguhnya itu semua bukanlah bencana. dalam teori manajemen bencana, gambar 5, 6, dan 7 adalah contoh dari apa yang disebut “hazard”. kalo di karang taruna kampungnya, zamronie akan menterjemahkan “hazard” sebagai “ancaman bencana”. ada juga sih pakar yang meng-indonesiakannya sebagai “ancaman bahaya”,  atau “ancaman” saja, atau cukup “bahaya”, atau entahlah mungkin ada istilah lainnya. ndak soal.

yang disebut “hazard” itu sesungguhnya adalah fenomena alam yang wajar. punya potensi untuk jadi berbahaya, tapi tidak selalu membahayakan. gunung meletus di suatu padang tandus, mungkin cuma akan dipotret dan difilmkan tanpa ada yang meributkannya sebagai bencana. ombak besar yang cuma menerjang batu2 kasar, barangkali akan jadi tontonan menarik sepanjang tak menimbulkan korban apapun. dan bumi merekah di lokasi antah berantah, sudah sering dilaporkan sebagai suatu aktivitas alam yang lumrah yang tak pernah bikin resah.

sebelum tsunami terjadi di negeri ini, zamronie pernah rada keki karena usulannya untuk bikin “hazards mapping” kurang begitu ditanggapi. (mungkin itu sebabnya lantas dia ngeluyur cari penghiburan di luaran). tsunami membuat kesadaran akan bencana berganti. kini “hazards mapping”, pemetaan ancaman bencana, menjadi trend kegiatan baru di mana2.

“maaf pak/bu, kami sedang melakukan ‘hazards mapping’. boleh kami tau, menurut bapak/ibu, apa sajakah yang menjadi ancaman bencana di wilayah sini?” demikian kira2 pertanyaan yang diajukan sang petugas ketika melakukan proses hazards mapping di suatu wilayah.

perhatikan, ia tidak menanyakan “apa sajakah BENCANA yang ada di wilayah ini?” karena mungkin saja jawabannya “oh, di wilayah sini belum pernah terjadi bencana, nak!”

yang ia tanyakan adalah “apa sajakah ANCAMAN BENCANA yang ada di wilayah ini?” sehingga walaupun di wilayah tersebut belum pernah ada bencana tetapi mungkin saja ada yang disebut hazards alias ancaman bencana itu tadi. misalnya ya yang dicontohkan pada gambar nomor 5, 6, dan 7: gunung berapi, ombak besar, dan rekahan tanah.

lha kok gambar nomor 1, 2, 3, dan 4 nggak dibahas? ah, kata siapa?

ntar pasti kalo si zamronie dah pulang dari keluyuran akan dilanjutkannya…

Iklan

September 7, 2006 Posted by | Teori Dasar | 15 Komentar

quiz bencana

sayang hadiahnya sudah habis. andai masih, layak diberikan kepada siapapun yang mampu menjawab pertanyaan di bawah ini dengan benar.

“dari tujuh gambar yg dinomori dalam kotak kuning di bawah, mana sajakah yang disebut bencana (disaster)?”

sepertinya sangat gampang. tapi kemarin2 terbukti tak demikian. bahkan di kalangan karang taruna internasional sekalipun, cuma segelintir orang yg mampu menjawab dengan tepat. padahal sudah dikasih contekan definisi disaster seperti dalam kotak coklat ini:

definisi bencana

[klik kotak tulisannya, biar gak bencana di mata] 

menyamakan persepsi tentang bencana adalah penting, sebelum kita terlanjur ngecipris mengobrolkan aneka hal yang terkait dengannya. jadi sebelum menjawab, cermati baik2 gambarnya…

mana yg bencana

[klik lagi kaya tadi, biar bisa njawab lebih jeli]

September 4, 2006 Posted by | Quizzes & Tests | 7 Komentar

bila itu ujian, mari kita lulus dgn nilai memuaskan

oh, bukan, bukan. bukannya congkak bukannya sombong, blog ini diberi judul “bencana? siapa takut!”. tak ada maksud menantang bencana. sama sekali tidak. toh bila memang datang waktunya, tak ada satupun dari kita yg mampu menolak bencana. tapi sebelum datang waktunya, setiap kita sebenarnya bisa melakukan sesuatu untuk mengantisipasi hal itu. sudahkah kita melakukannya?

banyak dari kita yang memandang bencana sebagai kehendak yang mahakuasa. sebagai sebuah ujian, yang kapan datang (atau tidak)nya tak bisa di-tawar2, bahkan meskipun kita mengerahkan sekian banyak pakar. repotnya, cara pandang demikian jebul membuat kita jadi pasif. kita baru petakilan berlomba berbuat yg paling hebat “setelah” bencananya terjadi. kita baru diskusi sana-sini “setelah” ujian diturunkan.

memposisikan bencana sebagai sebuah ujian adalah cara pandang yang tidak keliru. yang belum begitu benar adalah cara menyikapinya. bila benar bencana adalah ujian dari sang mahakuasa, mestinya — dgn asumsi sbg hamba yg baik — kita semua bersemangat untuk bisa lulus ujian tersebut dengan nilai memuaskan. dan untuk berhasil lulus memuaskan, salah satu caranya adalah dengan melakukan persiapan2 yang matang, dengan banyak belajar, jauh sebelum hari ‘h’ ujiannya tiba.

sebelum tsunami menghantam negeri ini, teori tentang bencana tak begitu diminati ataupun dipelajari. barulah setelah hingar-bingar berdatangannya sumbangan dolar plus analisa2 para pakar, kita mulai sadar bahwa negeri ini layak mendapat sebutan “the supermarket of disasters”. bukan karena kita bangsa yg wagu, pun bukan karena dosa2 kita, tetapi memang karena bumi nusantara yang kita tinggali ini memiliki karakter alam yang menyimpan banyak potensi ancaman bencana. negara lain juga punya potensi ancaman bencana, barang satu atau dua. kita punya lebih lengkap: tsunami, gempabumi, kekeringan, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, letusan gunung berapi, dst. sebut saja apa, kita punya. “you name it, we have it”. itu kita baru bicara soal bencana alam, belum bencana non-alam lainnya.

lantas, malu kah kita menjadi bangsa yg tinggal di negeri ‘supermarket-nya bencana’? tidak harus malu. kita malah justru bisa bangga memiliki ‘laboratorium’ yg komplit untuk meneliti dan melahirkan teori2 yg mendunia mengenai bencana. (sadar atau tidak, itu sudah terjadi dgn terus berdatangannya ahli2 dari berbagai belahan dunia menganalisa ini itu ttg bencana di indonesia). yang berkemungkinan membuat kita malu adalah, bila kitanya sendiri sebagai pemilik laboratorium-bencana kok ya cuma kebagian deritanya belaka, atau paling banter ngalap berkah sumbangan2.

sementara itu, teori dan wacana2 pengetahuan yang terkait bencana begitu pesat berkembang di komunitas internasional. kita sebagai pemilik laboratorium-bencana, yg negerinya mulai dikenal sbg ‘supermarket of disasters’, wajib melek-pengetahuan tentang semua ini. tidak harus menjadi pintar banget, memang. tetapi juga jangan sampai keterlaluan kupernya lantaran tak kenal babar-blas istilah2 paling standar dalam perbincangan manajemen bencana, semacam: vulnerability, risk reduction, hyogo framework, mitigation, un-isdr, early warning systems, etc..etc…

demikianlah, dgn segala kewaguannya, blog ini diangankan untuk mengarah ke sana. mengajak kita semua belajar bersama, ngobrol bareng, diskusi dengan riang, tentang hal2 yg terkait bencana. bukan saja di saat sedang hangat2nya terjadi bencana, namun juga di hari2 normal dimana kita tak pernah tahu apakah akan terjadi bencana (lagi) atau tidak. sebab ujian bisa terjadi kapan saja. dan ujian yg paling bermutu, konon justru adalah ujian yg tak pernah diumumkan lebih dulu.

lebih daripada itu, menarik andaikata kita bisa bikin negeri kita ini jadi pusat rujukan seluruh dunia untuk hal2 yg terkait bencana. boleh lah kita kalah di bidang2 lain yg kita tak punya, tapi masa sih dalam pengetahuan bencana pun kita kalah! katanya pengalaman adalah guru yg terbaik…

September 2, 2006 Posted by | pengantar | 9 Komentar

asal-muasal nulis blog soal bencana

di tikungan-jalannya pecas ndahe, ia temukan pencerahan (disertai desakan) dari paman tyo dan mbilung perkara nge-blog yg bisa dipake ‘tuk menyuarakan apa saja, termasuk ngobrolin soal manajemen bencana. dasar orangnya lugu tapi slalu smangat kalo disuruh maju, serta merta ia lakoni pitutur itu meski spenuhnya sadar bakal keteteran waktu. dengan begitu, blog ini jadi begini.

September 1, 2006 Posted by | pengantar | 8 Komentar